"Langkah Kecil Keluar Zona Introvert"

 Ketika pertama kali masuk kampus, saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan sosial dan mental saya akan menjadi proses perkembangan diri yang panjang. Dulu, saya termasuk mahasiswa UNUSA yang introvert. Bukan sekadar pemalu, tetapi saya merasa canggung berada dalam keramaian, sulit memulai percakapan, dan sering memilih menyendiri karena merasa itu lebih aman. Setiap kali dosen meminta mahasiswa untuk berdiskusi, memperkenalkan diri, atau terlibat dalam kelompok baru, tubuh saya terasa kaku seolah seluruh energi saya hilang. Bukan karena saya tidak mampu, tetapi saya takut akan penilaian orang membuat saya menahan diri.

Saya sering iri melihat teman-teman yang mudah bergaul, tertawa lepas, dan aktif di berbagai organisasi. Sementara saya memilih pulang cepat setelah kuliah selesai. Di kelas, saya lebih sering menjadi pendengar. Saat ada kesempatan untuk berbicara, suara saya bergetar dan pikiran saya terasa kosong. Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa saya memang bukan tipe yang cocok tampil di depan orang lain. Akhirnya, saya menanamkan persepsi bahwa tidak apa-apa menjadi “sendirian”, meskipun dalam hati saya tahu bahwa saya sebenarnya ingin berubah.

Seiring waktu, saya mulai merasakan dampak dari sifat introvert saya. Teman semakin sedikit, jaringan pertemanan hampir tidak berkembang, dan peluang kegiatan kampus terlewat begitu saja. Saat melihat teman-teman mendapatkan kesempatan magang, mengikuti lomba, atau terlibat dalam proyek kampus, saya sadar bahwa keterbatasan saya bukan berasal dari orang lain tapi dari diri saya sendiri. Identifikasi masalah pun menjadi jelas: saya bukan kurang kemampuan, tetapi saya terjebak dalam zona nyaman yang sempit dan takut memperluasnya.

Identifikasi masalah utama yang saya alami adalah ketakutan sosial takut salah, takut tidak diterima, takut menjadi pusat perhatian. Masalah kedua adalah percaya diri yang rendah. Saya selalu merasa kurang layak untuk terlibat dalam kegiatan tertentu. Masalah ketiga adalah kebiasaan menghindar, yang membuat saya semakin tidak berkembang. Menghindari interaksi membuat saya tidak punya kesempatan untuk belajar, dan tanpa disadari, itu mengikat saya dalam siklus yang sama selama bertahun-tahun.

Namun, titik balik terjadi ketika saya mengikuti sebuah seminar kampus. Pembicara mengatakan bahwa perubahan bukan terjadi ketika kita siap, tetapi ketika kita mulai melangkah meski takut. Kata-kata itu seperti mengetuk kesadaran saya. Saya menyadari kalau saya terus seperti ini, saya tidak akan pernah keluar dari batasan yang saya ciptakan sendiri. Mulai hari itu, saya memutuskan untuk mencoba keluar dari zona tersebut sedikit demi sedikit.

Ada tiga cara yang saya lakukan untuk mengatasi masalah introvert saya:

1. Memulai dari langkah kecil

Saya tidak langsung memaksakan diri untuk tampil di depan umum. Sebaliknya, saya mulai dengan hal sederhana: tersenyum pada teman sekelas, mengajak satu orang berdiskusi, atau bertanya satu pertanyaan di kelas. Langkah kecil ini membantu saya membangun keberanian bertahap. Saya belajar bahwa perubahan besar lahir dari rutinitas kecil yang konsisten. Setiap interaksi kecil membuat saya lebih nyaman berada di antara orang lain.

2. Bergabung dengan komunitas yang sesuai minat

Saya sadar bahwa memaksa diri masuk ke lingkungan besar sekaligus justru membuat saya semakin tertekan. Jadi saya memilih bergabung dengan komunitas kecil yang sesuai minat saya. Di komunitas itu, saya menemukan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama, sehingga saya lebih mudah membuka diri. Dari situ, saya mulai belajar berbicara, berdiskusi, dan bekerja sama dalam tim. Perlahan saya mulai merasa diterima, dan rasa percaya diri mulai tumbuh.

3. Melatih kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri

Saya sadar bahwa untuk keluar dari zona introvert saya, kemampuan komunikasi harus dilatih. Saya mulai membiasakan diri berbicara di depan kaca, mencatat poin-poin penting sebelum bicara, dan melatih keberanian bertanya di kelas. Saya juga mulai membaca buku pengembangan diri untuk memperbaiki mindset saya. Setiap kali saya berhasil melakukan hal yang sebelumnya saya takutkan, saya memberi diri saya penghargaan kecil. Ini membantu memupuk rasa percaya diri.

Sekarang, saya bukan lagi mahasiswa yang selalu menyendiri di sudut ruangan. Saya mulai bisa berbicara di depan banyak orang, memiliki lingkaran pertemanan lebih luas, dan terlibat aktif dalam kegiatan organisasi. Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, tetapi hasil dari keberanian untuk memulai langkah kecil.

Yang saya pelajari adalah: introvert bukan kelemahan. Namun, berlindung di balik label itu tanpa mencoba berkembang justru membatasi diri. Dan ketika saya akhirnya berani keluar dari zona nyaman, saya menemukan versi diri saya yang jauh lebih kuat dan percaya diri dibandingkan sebelumnya.


NAMA: Dimas Abdi Pratama

KELOMPOK: 06 GANGLION

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Ngopi terus?Ini Dampaknya Ke Tubuh Mahasiswa

RESUME MATERI PKKMB DAY 1